RSS
Like you , I Can't Say That ( part 2 )


Malam ini tampak cerah , aku tengah bersiap untuk pergi ke sebuah kafe di wilayah kota . Aku ingin melepas penat karena seminggu sudah otak ku diperas untuk menghadapi ujian tengah semester. Sudah sejam aku menanti kedatangan Mia yang akan menemani ku pergi,tapi dia tak kunjung datang. Tiba - tiba hp ku bergetar , 

"Halo ... " 
"Ah,Ar sorry nih aku kejebak macet , ada kecelakan di depan perumahan ku. Kamu berangkat dulu aja deh entar aku susulin ke kafe" Cerocos Mia tanpa henti 
" Hu .... ga asik banget , ya udah deh , cepetan nyusul " 
" Iye ... iye non "

Sampai di kafe aku memilih duduk di meja nomer 6 , dekat jendela . Aku suka mengamati langit malam dari jendela ini. Setengah jam sudah , tapi tak ada tanda - tanda kedatangan Mia . Aku pun memilih mengalihkan perhatian ku ke panggung live band yang tengah menghibur penonton kafe dengan lagu - lagunya. 

Band itu pun selesai , dan berganti dengan band lain . Awalnya aku  tak terlalu antusias . Tapi , tidak setelah ku lihat gitaris band itu , aku mengenalinya , amat sangat mengenalinya. Ya,dia Tara , aku begitu terkejut, bagaimana mungkin anak pendiam seperti itu bisa menjadi gitaris band dan manggung di kafe . 

" Hoi ... ngapain sih , dari tadi aku panggil - panggil kok bengong ? " Sentak Mia 
" Apaan sih ngagetin orang aja " balasku 
" Oh lagi ngliatin band itu , vokalisnya keren ya " 
" Kalau gitarisnya gimana menurutmu ?"
" Si Tara  ? lumayanlah , dia paling kalem di band. kenapa ? jangan - jangan ... "
"  Kok tahu namanya Tara ? Gak usah mikir yang aneh - aneh deh "
" Iya jelas taulah ,  kebetulan vokalisnya anak sahabat baik mamaku, kalau lagi nemenin mamanya ke rumah dia biasa ngobrol sama aku . "
" Percaya gak , kalau aku bilang Tara teman sekelas ku  "
" Yang bener ? gak mungkin " 
" Entahlah , aku juga bingung dia gitaris band , tapi kok temen - temen gak tahu ya ? " 
" Tau deh mungkin dia lagi dalam misi rahasia untuk membela negara jadi harus nyembunyiin identitasnya . udah ah yuk makan , abis ini jalan "

Aku pun masih terus menatapnya , sambil menghabiskan  pesanan ku. tak kusangka dia tiba - tiba membalas tatapan ku . Ada sorot keterkejutan dimatanya , namun sekilas aku bisa melihatnya tersenyum ke arah ku. Entah kenapa tiba - tiba ada rasa aneh yang muncul ketika dia tersenyum , senyum yang jarang ku lihat ketika dia ada di kelas , senyum yang terasa begitu tulus. 

Pagi,ketika sampai disekolah , kelas ku masih begitu sepi . hanya ada beberapa anak yang sudah datang dan sibuk dengan kegiatanya masing - masing. Aku memilih segera duduk di bangku ku , entah kenapa aku suka berada di kelas pagi hari , saat kelas masih tenang .

Setengah jam kemudian , anak - anak kelas ku mulai banyak yang berdatangan termasuk Tara . Tampak sekilas dia menatap ku namun aku lebih memilih mengalihkan pandangan ku , aku tak tau yang jelas ada rasa yang membuat ku gelisah ketika dia menatap ku. 

Bel pulang pun berbunyi dan aku bergegas menuju ke parkiran . Keluar gerbang sekolah , aku mengayuh sepedaku cepat - cepat. aku ingin segera sampai rumah dan beristirahat , hari ini sungguh melelahkan. Ya , sekolah ku memang tak memperbolehkan siswanya yang belum mempunyai SIM untuk memakai kendaraan bermontor ke sekolah. Jadi aku lebih memilih menaiki sepeda, aku tak pernah diantar ke sekolah oleh kedua orang tua ku sejak duduk di bangku sekolah dasar , mereka tak ingin aku menjadi anak yang manja. Ketika aku tengah asik dengan pikiranku , tiba - tiba ada yang memanggil ku. 

" Ar ... " 
Aku pun menolehkan kepala ku dan kulihat Tara disamping ku tengah tersenyum kepada ku. Aku benar - benar mengutuk saat itu. Aku tak pernah tahan jika melihat Tara tersenyum seperti itu. 

" Oh ... ya " balas ku kikuk 
" Mau pulang ? ke arah biasa ? " tanya nya lembut 
" Ehm .. iya . kenapa ? " 
" Bareng yuk , kebetulan aku mau ke rumah temen ku. Rumahnya hanya jarak 3 rumah dari rumah mu. " 
" Oh anak itu , ya ya namanya Dio kan . Kenal dimana ? " 
" Di tempat les . By the way , tolong rahasiain soal kemarin ya dari temen - temen . Apalagi temen sekelas. " 
" Loh emang kenapa ? permainan gitar mu keren kok." pujiku tulus
" Please,pokoknya jangan . aku belum bisa jelasin alasannya sekarang , suatu saat aku pasti jelasin ke kamu."
" Hahaha ... iya ya , ga jelasin juga gapapa kali . Aku kan cuma becanda."
" Aku pasti jelasin ke kamu. aku janji."
" Iya deh terserah, Tuh rumahnya udah di depan."
" Oh,iya oke deh kamu hati - hati."
" Udah deket kali rumah ku juga , udah di depan mata , hehehe. Oke bye!"


Aku pun masuk ke rumah dengan berbagai macam perasaan , antara sikapnya yang begitu berbeda saat dengan ku , juga alasannya merahasiakan identitasnya jika dia seorang gitaris. Ah sudahlah, aku terlalu lelah hari ini. Tanpa sadar aku pun sudah terlelap di alam mimpi.



Bersambung .....






Like you , I Can't Say That (Part 1)


Aku tengah sibuk dengan tugas kimia malam itu . Hp ku tampak berkedip beberapa kali, Akhirnya dengan setengah hati aku pun bangkit dari meja belajar dan membaca pesan singkat yang kuterima. Rupanya dari Tara,yang menanyakan apa tugasnya dikelompok biologi besok. Dengan sedikit menggumam aku mencoba mengingat - ingat apa tugasnya. Dan yang akhirnya kuingat adalah dia tidak satu kelompok dengan ku. Bagaimana bisa dia melupakan kelompoknya sendiri ? Benar - benar ceroboh .gumam ku dalam hati. Sejujurnya aku tidak terlalu dekat dengan Tara,biasa saja seperti teman - teman cowok yang lain,tapi entah mengapa ada hal yang berbeda darinya akhir - akhir ini yang kurasakan. Aku pun lebih memilih untuk tidak menjawab smsnya,biar sajalah dia kebingungan. 

Seminggu berlalu, ketika aku tengah sibuk membalas chat temanku sambil berjalan di koridor sekolah. Dia yang tiba - tiba muncul menyapaku dengan hangat. " Hai Ar ... " Sapanya sambil tersenyum manis. Sekejap aku langsung menoleh "Oh hai ... " Jawabku bingung. Kesambet apa sih dia kok jadi ramah gitu. Dan dia hanya menyapaku , padahal aku tengah berjalan bersama Riri , mana mungkin dia tidak mengenal Riri yang juga teman sekelasnya lebih tepatnya teman sekelas kami. 

Tara adalah tipe cowok pendiam, dia sangat irit bicara , bahkan cenderung misterius dimataku.  Jadi jika tiba - tiba dia bersikap sebegitu ramahnya bukan kah aneh ? . Mungkin dia tengah berlatih menjadi orang yang terbuka terka ku. Sampai detik itu pun tak ada pikiran atau perasaan aneh tentangnya. Lagipula aku memang selama ini tak terlalu mengenalnya,kami hanya pernah sekali duduk sebangku pada waktu aku dan dia sama- sama datang terlambat. Itu pun sepanjang hari kami hanya berbicara seperlunya tentang pelajaran. 

Namun,sebulan setelah kejadian itu ada hal yang membuat ku berubah pikiran tentang Tara. Sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumya,dan rasanya terbesit dibenak ku saja tidak sama sekali .... yang kini menjadikan hidup ku entah berubah menjadi lebih baik atau bertambah buruk ???

Bersambung ..... 




Jauh aku melangkah dalam benak 
Bersama alunan sendu 
Mengejar semu

Tak peduli sekalipun ia tak pernah berhenti 
Mengais jejak jejak asa yang tersisa disini 
Tak peduli dan ku benar benar tak peduli 
Sekalipun ia tak menoleh lagi 

yang kutahu 
tugasku 
hanya mengejar 
mengejar dan terus mengejar 
bukan berhenti
bukan diam 
dan yang pasti 
bukan hanya menanti