RSS
Like You , I Can't Say That (part 3)


" Datang juga akhirnya kamu Ri. Capek tau nungguin disini " Cerocos ku 
" Yaya .. maaf tadi ketiduran " 
" Ya udah yuk masuk , bentar lagi lombanya mulai " 
" Ciyeee yang mau ngeliatin pangerannya lomba "
" Apaa sih .... dia bukan siapa siapa "
" Emang siapa yang aku maksud "
" Tau ah ... "

Hari ini aku tengah berada di antara ratusan orang yang memadati tempat ini untuk menyaksikan lomba band antar pelajar se-kota. Tentu saja aku begitu antusias , aku ingin melihat Tara yang juga ikut dalam lomba ini. 

Oke aku telah jujur kepada diriku sendiri bahwa aku emm .. menyukainya . Ya , aku menyukai cowok aneh itu. Dan aku benar benar tak mengerti , apa yang telah meracuni pikiran ku . Entahlah , namun hingga kini aku masih tak mengakuinya pada orang lain , cukup ku akui untuk diriku sendiri. 

Giliran Band milik Tara yang kini tengah tampil , aku ikut menanti dengan berdebar - debar . Semoga  semua lancar , doa ku dalam hati. Dan aku pun melihat sosoknya , Tara sungguh manis malam ini , dia menggunakan kemeja kotak - kotak yang tidak dikancingkan , di dalamnya tampak kaos putih polos ia kenakan. Rambutnya sedikit berbeda dari hari hari biasanya . Dan aku pun larut dalam permainan gitarnya. 

Rupanya banyak sekali yang juga mengidolakan Tara , terdengar beberapa teriakkan yang menyebutkan namanya . Dan dia tampak tersenyum kepada mereka yang meneriakkan namanya. Ah,rasanya aku iri dengan mereka . Jujur saja aku tak bisa meneriakkan namanya entah kenapa lidah ini kelu. Namun tanpa sadar aku melihatnya menatap tepat ke arahku , dan dia lagi lagi tersenyum begitu manis , senyum yang selalu dan selalu membuat hati ini bergetar hebat. 

" Ri , pulang yuk ah ..."
" Lah , kan baru sebentar . Mentang - mentang Tara udah tampil mau pulang gitu ? "
" Hemm gak gitu juga sih , tapi .... "
" Udah santai aja lah , lihat dulu bentar ... "
" Ya deh terserah ... "

Aku pun memilih diam mematung disamping Riri yang lonjak lonjak mengikuti permainan musik band yang tengah tampil di panggung . Tiba - tiba aku merasa ada yang memanggil nama ku 

" Ar , Ariska ... "
" Ya ? "
" Hei , kamu liat penampilan ku rupanya "
" Ah oh eh Tara .... iya aku liat "
" Jelek ya pasti perform ku " 
" Gak kok bagus banget Tar ... " 
" Makasih loh ya ... kamu malam ini .... " 
" Aku kenapa ??? "
" Kamu keliatan manis .... "
" Eh hahahhah , jangan becanda deh "
" Oh ya , aku mau ngajak kamu jalan besok bisa? "
" Aku ? kamu ? Jalan ? " 
" Iya temenin cari sesuatu "
" Iya deh bisa ... bisa "
" Oke , makasih ya Ar "

Malam ini pun aku hampir tak bisa menutup mata ku , apa tadi aku tidak salah dengar dia memuji ku. Dan besok aku akan jalan sama dia , ah aku jadi takut jika mendapat kebahagiaan seperti ini. 


" Pagi Ar .... "
" Pagi juga , yuk berangkat "
" Eh iya iya .. "

Aku pun tak peduli dan tak menannyakan kemana Tara akan membawa ku pergi , selama itu bersama Tara yang kutahu aku akan bahagia. 

Dan rupanya Tara mengajak ku ke sebuah danau di pinggiran kota , danau itu tampak tak terlalu ramai. Aku dan Tara pun duduk ditepi jembatan danau . 

" Kenapa kamu ngajak aku kesini ? "
" Ada sesuatu yang aku pengin ceritain ke kamu "
" Cerita aja ... "
" Jadi gini , aku lagi suka sama seseorang mungkin sayang bahkan. Awalnya , aku gak sadar kalau aku sayang sama dia, yang ku tahu aku suka memikirkannya . Dan akhir - akhir ini aku tau aku sayang sama dia. Tapi aku gak bisa bilang ke dia , aku gak mau hubungan pertemanan aku sama dia rusak. Aku mau kok nunggu sampai kita berdua sama sama lulus dulu dan jadi orang sukses , baru aku bilang ke dia kalau aku sayang sama dia. Tapi , aku takut ... takut kalau dia gak punya rasa yang sama ke aku . Aku takut banget ... "
" Aku tau perasaan mu , aku pun kini ada di posisi yang sama dengan mu ... dan aku tahu aku menunggu orang yang sedang menunggu tapi gak tau siapa yang dia tunggu " 
" Lalu seandainya emang gitu . apa aku harus tetap menunggu ? "
" Ya , kalau emang kamu sayang ... kamu harus tetap menunggu . kecuali kalau kamu udah bilang kamu boleh saja pergi kalau dia gak suka . "
" Oke .... makasih untuk hari ini "
" Ya sama - sama kok " jawab ku sambil menahan air mata
" Kamu mau kemana setelah ini ? " 
" Ah , aku mau pulang aja ... " 
" Yakin mau langsung pulang ? " 
" Iya aku mau pulang aja "

Sampai dirumah , aku pun menangis dalam diam . Aku kini tahu , bahwa hati Tara sudah ada yang memiliki. Bodohnya aku , yang terlalu mengharapkan Tara menyayangi ku . Tapi tetap saja , aku tak bisa begitu saja menghilangkan perasaan ini , perasaan yang selalu terbang tinggi bersamanya hingga aku lupa bahwa semuanya hanya semu belaka . 


Bersambung .....


Like you , I Can't Say That ( part 2 )


Malam ini tampak cerah , aku tengah bersiap untuk pergi ke sebuah kafe di wilayah kota . Aku ingin melepas penat karena seminggu sudah otak ku diperas untuk menghadapi ujian tengah semester. Sudah sejam aku menanti kedatangan Mia yang akan menemani ku pergi,tapi dia tak kunjung datang. Tiba - tiba hp ku bergetar , 

"Halo ... " 
"Ah,Ar sorry nih aku kejebak macet , ada kecelakan di depan perumahan ku. Kamu berangkat dulu aja deh entar aku susulin ke kafe" Cerocos Mia tanpa henti 
" Hu .... ga asik banget , ya udah deh , cepetan nyusul " 
" Iye ... iye non "

Sampai di kafe aku memilih duduk di meja nomer 6 , dekat jendela . Aku suka mengamati langit malam dari jendela ini. Setengah jam sudah , tapi tak ada tanda - tanda kedatangan Mia . Aku pun memilih mengalihkan perhatian ku ke panggung live band yang tengah menghibur penonton kafe dengan lagu - lagunya. 

Band itu pun selesai , dan berganti dengan band lain . Awalnya aku  tak terlalu antusias . Tapi , tidak setelah ku lihat gitaris band itu , aku mengenalinya , amat sangat mengenalinya. Ya,dia Tara , aku begitu terkejut, bagaimana mungkin anak pendiam seperti itu bisa menjadi gitaris band dan manggung di kafe . 

" Hoi ... ngapain sih , dari tadi aku panggil - panggil kok bengong ? " Sentak Mia 
" Apaan sih ngagetin orang aja " balasku 
" Oh lagi ngliatin band itu , vokalisnya keren ya " 
" Kalau gitarisnya gimana menurutmu ?"
" Si Tara  ? lumayanlah , dia paling kalem di band. kenapa ? jangan - jangan ... "
"  Kok tahu namanya Tara ? Gak usah mikir yang aneh - aneh deh "
" Iya jelas taulah ,  kebetulan vokalisnya anak sahabat baik mamaku, kalau lagi nemenin mamanya ke rumah dia biasa ngobrol sama aku . "
" Percaya gak , kalau aku bilang Tara teman sekelas ku  "
" Yang bener ? gak mungkin " 
" Entahlah , aku juga bingung dia gitaris band , tapi kok temen - temen gak tahu ya ? " 
" Tau deh mungkin dia lagi dalam misi rahasia untuk membela negara jadi harus nyembunyiin identitasnya . udah ah yuk makan , abis ini jalan "

Aku pun masih terus menatapnya , sambil menghabiskan  pesanan ku. tak kusangka dia tiba - tiba membalas tatapan ku . Ada sorot keterkejutan dimatanya , namun sekilas aku bisa melihatnya tersenyum ke arah ku. Entah kenapa tiba - tiba ada rasa aneh yang muncul ketika dia tersenyum , senyum yang jarang ku lihat ketika dia ada di kelas , senyum yang terasa begitu tulus. 

Pagi,ketika sampai disekolah , kelas ku masih begitu sepi . hanya ada beberapa anak yang sudah datang dan sibuk dengan kegiatanya masing - masing. Aku memilih segera duduk di bangku ku , entah kenapa aku suka berada di kelas pagi hari , saat kelas masih tenang .

Setengah jam kemudian , anak - anak kelas ku mulai banyak yang berdatangan termasuk Tara . Tampak sekilas dia menatap ku namun aku lebih memilih mengalihkan pandangan ku , aku tak tau yang jelas ada rasa yang membuat ku gelisah ketika dia menatap ku. 

Bel pulang pun berbunyi dan aku bergegas menuju ke parkiran . Keluar gerbang sekolah , aku mengayuh sepedaku cepat - cepat. aku ingin segera sampai rumah dan beristirahat , hari ini sungguh melelahkan. Ya , sekolah ku memang tak memperbolehkan siswanya yang belum mempunyai SIM untuk memakai kendaraan bermontor ke sekolah. Jadi aku lebih memilih menaiki sepeda, aku tak pernah diantar ke sekolah oleh kedua orang tua ku sejak duduk di bangku sekolah dasar , mereka tak ingin aku menjadi anak yang manja. Ketika aku tengah asik dengan pikiranku , tiba - tiba ada yang memanggil ku. 

" Ar ... " 
Aku pun menolehkan kepala ku dan kulihat Tara disamping ku tengah tersenyum kepada ku. Aku benar - benar mengutuk saat itu. Aku tak pernah tahan jika melihat Tara tersenyum seperti itu. 

" Oh ... ya " balas ku kikuk 
" Mau pulang ? ke arah biasa ? " tanya nya lembut 
" Ehm .. iya . kenapa ? " 
" Bareng yuk , kebetulan aku mau ke rumah temen ku. Rumahnya hanya jarak 3 rumah dari rumah mu. " 
" Oh anak itu , ya ya namanya Dio kan . Kenal dimana ? " 
" Di tempat les . By the way , tolong rahasiain soal kemarin ya dari temen - temen . Apalagi temen sekelas. " 
" Loh emang kenapa ? permainan gitar mu keren kok." pujiku tulus
" Please,pokoknya jangan . aku belum bisa jelasin alasannya sekarang , suatu saat aku pasti jelasin ke kamu."
" Hahaha ... iya ya , ga jelasin juga gapapa kali . Aku kan cuma becanda."
" Aku pasti jelasin ke kamu. aku janji."
" Iya deh terserah, Tuh rumahnya udah di depan."
" Oh,iya oke deh kamu hati - hati."
" Udah deket kali rumah ku juga , udah di depan mata , hehehe. Oke bye!"


Aku pun masuk ke rumah dengan berbagai macam perasaan , antara sikapnya yang begitu berbeda saat dengan ku , juga alasannya merahasiakan identitasnya jika dia seorang gitaris. Ah sudahlah, aku terlalu lelah hari ini. Tanpa sadar aku pun sudah terlelap di alam mimpi.



Bersambung .....






Like you , I Can't Say That (Part 1)


Aku tengah sibuk dengan tugas kimia malam itu . Hp ku tampak berkedip beberapa kali, Akhirnya dengan setengah hati aku pun bangkit dari meja belajar dan membaca pesan singkat yang kuterima. Rupanya dari Tara,yang menanyakan apa tugasnya dikelompok biologi besok. Dengan sedikit menggumam aku mencoba mengingat - ingat apa tugasnya. Dan yang akhirnya kuingat adalah dia tidak satu kelompok dengan ku. Bagaimana bisa dia melupakan kelompoknya sendiri ? Benar - benar ceroboh .gumam ku dalam hati. Sejujurnya aku tidak terlalu dekat dengan Tara,biasa saja seperti teman - teman cowok yang lain,tapi entah mengapa ada hal yang berbeda darinya akhir - akhir ini yang kurasakan. Aku pun lebih memilih untuk tidak menjawab smsnya,biar sajalah dia kebingungan. 

Seminggu berlalu, ketika aku tengah sibuk membalas chat temanku sambil berjalan di koridor sekolah. Dia yang tiba - tiba muncul menyapaku dengan hangat. " Hai Ar ... " Sapanya sambil tersenyum manis. Sekejap aku langsung menoleh "Oh hai ... " Jawabku bingung. Kesambet apa sih dia kok jadi ramah gitu. Dan dia hanya menyapaku , padahal aku tengah berjalan bersama Riri , mana mungkin dia tidak mengenal Riri yang juga teman sekelasnya lebih tepatnya teman sekelas kami. 

Tara adalah tipe cowok pendiam, dia sangat irit bicara , bahkan cenderung misterius dimataku.  Jadi jika tiba - tiba dia bersikap sebegitu ramahnya bukan kah aneh ? . Mungkin dia tengah berlatih menjadi orang yang terbuka terka ku. Sampai detik itu pun tak ada pikiran atau perasaan aneh tentangnya. Lagipula aku memang selama ini tak terlalu mengenalnya,kami hanya pernah sekali duduk sebangku pada waktu aku dan dia sama- sama datang terlambat. Itu pun sepanjang hari kami hanya berbicara seperlunya tentang pelajaran. 

Namun,sebulan setelah kejadian itu ada hal yang membuat ku berubah pikiran tentang Tara. Sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumya,dan rasanya terbesit dibenak ku saja tidak sama sekali .... yang kini menjadikan hidup ku entah berubah menjadi lebih baik atau bertambah buruk ???

Bersambung ..... 




Jauh aku melangkah dalam benak 
Bersama alunan sendu 
Mengejar semu

Tak peduli sekalipun ia tak pernah berhenti 
Mengais jejak jejak asa yang tersisa disini 
Tak peduli dan ku benar benar tak peduli 
Sekalipun ia tak menoleh lagi 

yang kutahu 
tugasku 
hanya mengejar 
mengejar dan terus mengejar 
bukan berhenti
bukan diam 
dan yang pasti 
bukan hanya menanti 

Para pujangga berlomba - lomba
Meramu untaian kata demi kata
Meniupkan ruh mecoba membangkitkan jiwa
Pada alunan bait sendu tentang kita






Sekolah adalah hal luar biasa yang dianugerahkan untuk ku. Sekalipun tak jarang aku memaki karena segunung tugas dan ujian yang tak lelah silih berganti menghampiri. Namun,sejujurnya aku tak pernah membencinya,aku menyukainya. Tempat dimana aku bisa merasakan hangatnya persahabatan hingga paitnya percintaan. Tempat dimana aku bisa merasa menjadi seorang remaja normal pada umumnya.  

Di sekolah aku belajar bagAimana bisa berkerja sama dengan banyak sifat yang jauh bertentangan denganku. Disana pula aku belajar apa yang disebut kesetiaan,ketulusan,sekaligus kemunafikkan. 
Kini aku tengah menggoreskan kisahku yang kelak akan menjadi kenangan ketika aku tak lagi berada disana. Kelak ketika waktu memaksa ku menapaki kehidupan yang lebih dewasa. 

Lalu apa aku tega membiarkan ini berlalu begitu saja? tanpa kenangan ? tanpa warna ? Aku masih terus berusaha mengukir kenangan terbaik untuk masa ini. Masa yang orang - orang dewasa ingin kembali lagi ke masa yang tengah ku lalui ini. 

Ketika kebahagiaan disini hanya karena jam kosong,guru killer gak masuk,pulang pagi,libur 1 minggu,sekelas sama gebetan,nongkrong bareng sahabat,dan nilai bagus. 
Ketika kebahagiaan bisa didapat begitu sederhana. Dan kesedihan hanya karena nilai jelek,gagal libur,gebetan jadian sama temen lain. Kesedihan pun begitu sederhana. 

Apa kau masih saja muak dengan segala hal tentang sekolah ? 

Hai kawan ? tak ingin kah kau memberikan kisah termanis di masa ini ? ketika kelak kau dewasa kau tak segan mengingatnya . 

Kepada pagi yang menyapa embun
Tak lelah kah kau dengan keseharianmu
Melontarkan cahaya yang manusia enggan menerima
Yang mengganggu nyenyak tidurnya